Jika sebelumnya kita pernah membahas mengenai Kohesi dan Koherensi, kali ini kita akan bahas mengenai Penalaran Induktif dan Deduktif. Sebelum membahas jenis penalaran, kita akan membahas mengenai pengertian penalaran dahulu.
Berdasarkan penyampaiannya, penalran dibagi menjadi dua yaitu secara induktif dan deduktif. Dari Dua jenis penalaran ini oun dibagi menjadi beberapa macam
Jenis Penalaran Induktif:
Penalaran Generalisasi
enalaran secara generalisasi dilakukan dengan mengemukakan hal-hal khusus lalu menarik simpulannya secara umum.
Contoh :
Penalaran Analogi
Penalaran analogi dilakukan dengan cara membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi keduanya memiliki beberapa sisi persamaan.
Contoh:
Orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan berpendidikan tinggi seharusnya bersifat seperti padi. Setangkai padi yang mulai berisi akan merunduk. Makin bernas bulir padi itu, makin merunduk tangkainya. Begitu pula manusia yang berilmu dan berpendidikan tinggi. Semakin ia berwawasan, semakin ia merendahkan hatinya seperti merunduknya setangkai padi yang berbulir bernas.
Penalaran Kausalitas
Penalaran kausalitas menunjukkan hubungan sebab-akibat atau akibat-sebab.
Contoh 1
Penduduk dari daerah banyak yang hijrah ke Jakarta. Mereka terimingi-imingi oleh gambaran kehidupan mewah di Jakarta dan kemudahan mencari kerja. Akibatnya, Jakarta semakin penuh oleh pendatang.
Jenis-jenis penalaran deduktif:
Penalaran Silogisme
Pada silogisme terdapat dua premis (pernyataan) dan satu simpulan. Kedua premis itu adalah premis umum (mayor) dan khusus (minor).
Pengertian penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari pengamatan empirik(indera) yang menghasilkan beberapa pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.Penalaran Induktif dan Deduktif
Jenis-jenis Penalaran
Berdasarkan penyampaiannya, penalran dibagi menjadi dua yaitu secara induktif dan deduktif. Dari Dua jenis penalaran ini oun dibagi menjadi beberapa macam
Macam-macam Penalaran
Berikut ini dari penalaran Induktif dan Deduktif dibagi menjadi beberapa macam:Pola Penalaran Induktif
Penalaran induktif dilakukan dengan menyebutkan permasalahan-permasalahan khusus dan berangsur-angsur menuju simpulan (permasalahan umum). Secara simpelnya jenis penalaran ini dimulai dari khusus ke umum.Jenis Penalaran Induktif:
- Generalisasi
- Analogi
- Sebab-akibat (kausalitas)
Penalaran Generalisasi
enalaran secara generalisasi dilakukan dengan mengemukakan hal-hal khusus lalu menarik simpulannya secara umum.
Contoh :
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, perak memuai.
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
Penalaran Analogi
Penalaran analogi dilakukan dengan cara membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi keduanya memiliki beberapa sisi persamaan.
Contoh:
Orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas dan berpendidikan tinggi seharusnya bersifat seperti padi. Setangkai padi yang mulai berisi akan merunduk. Makin bernas bulir padi itu, makin merunduk tangkainya. Begitu pula manusia yang berilmu dan berpendidikan tinggi. Semakin ia berwawasan, semakin ia merendahkan hatinya seperti merunduknya setangkai padi yang berbulir bernas.
Penalaran Kausalitas
Penalaran kausalitas menunjukkan hubungan sebab-akibat atau akibat-sebab.
Contoh 1
Penduduk dari daerah banyak yang hijrah ke Jakarta. Mereka terimingi-imingi oleh gambaran kehidupan mewah di Jakarta dan kemudahan mencari kerja. Akibatnya, Jakarta semakin penuh oleh pendatang.
Pola Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif menyampaikan hal-hal umum terlebih dahulu, lalu berangsur-angsur menjelaskan hal-hal khusus.Jenis-jenis penalaran deduktif:
- Silogisme
- Silogisme negatif
- Entimem
Penalaran Silogisme
Pada silogisme terdapat dua premis (pernyataan) dan satu simpulan. Kedua premis itu adalah premis umum (mayor) dan khusus (minor).
Rumus Silogisme:
PU : Semua A = B
PK : C = A
S : C = B
Contoh:
Silogisme Negatif
Silogisme negatif adalah sebuah silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif. Jika salah satu premisnya negatif, simpulannya juga negatif.
Dalam silogisme negatif biasanya digunakan kata ‘tidak’ atau ‘bukan’.
Contoh:
Entimem
Entimem adalah silogisme yang diperpendek. Dari sebuah silogisme dapat dibuat entimemnya. Demikian pula sebaliknya, dari sebuah entimem dapat disusun silogisme.
Rumus
Contoh
Anda juga bisa membaca Jenis-jenis Karangan Eksposisi
Demikian mengenai Contoh Penalaran Induktif dan Deduktif dan jenis dan polanya yang bisa anda gunakan sebagai bahan referensi untuk anda menyusun tugas atau anda yang sedang membutuhkan materi tentang penalaran pada linguistik bahasa indonesia.
Daftar Pustaka:
.
S : C = B
Contoh:
PU : Semua orang Islam wajib melaksanakan salat.
A B
PK : Ihsan adalah orang Islam.
C A
S : Ihsan wajib melaksanakan salat.
C B
Silogisme Negatif
Silogisme negatif adalah sebuah silogisme yang salah satu premisnya bersifat negatif. Jika salah satu premisnya negatif, simpulannya juga negatif.
Dalam silogisme negatif biasanya digunakan kata ‘tidak’ atau ‘bukan’.
Contoh:
PU : Siswi di sekolah negeri tidak wajib berjilbab.
A B
PK : Dewi adalah seorang siswi di sekolah negeri.
C A
S : Dewi tidak wajib berjilbab.
C B
Entimem
Entimem adalah silogisme yang diperpendek. Dari sebuah silogisme dapat dibuat entimemnya. Demikian pula sebaliknya, dari sebuah entimem dapat disusun silogisme.
Rumus
C = B karena C = A
Contoh
PU : Semua orang Islam wajib melaksanakan salat.
A B
PK : Ihsan adalah orang Islam.
C A
K : Ihsan wajib melaksanakan salat.
C B
Anda juga bisa membaca Jenis-jenis Karangan Eksposisi
Demikian mengenai Contoh Penalaran Induktif dan Deduktif dan jenis dan polanya yang bisa anda gunakan sebagai bahan referensi untuk anda menyusun tugas atau anda yang sedang membutuhkan materi tentang penalaran pada linguistik bahasa indonesia.
Daftar Pustaka:
- Jujun S. Suriasumantri. 1996. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
- W.J.S. Poerwadarminta. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
.
0 Response to "Pola, Jenis, dan Contoh Penalaran Induktif dan Deduktif"
Posting Komentar